Zahrotul Ainiyah, nama yang memiliki makna sangat indah sekali. Dilahirkan di sebuah dusun kecil di perbatasan antara Kabupaten Mojokerto dan Lamongan. Satu-satunya anak perempuan dari seorang petani yang terkenal akan kealimannya dan disegani karena sikapnya yang salihah dan baik. Gadis belia yang berumur sekitar 17 tahun, menutup tubuhnya dengan kerudung yang lebar dan pakaian yang anggun tapi sopan. Seorang gadis yang sangat penurut kepada orang tuanya dan tidak pernah keluar rumah tanpa seizing bapaknya.
Zahroh, begitulah dia akrab dipanggil sehari-hari. Gadis pendiam yang sangat lugu dan tidak pernah merasakan kehidupan modern seperti gadis seusianya. Bahkan Zahroh juga gadis yang gaptek atau gagap teknologi, karena dia hanya memiliki handphone Nokia keluaran lama tahun 2006 an hasil pemberian bapaknya setelah panen padi.
"Zahroh, kemarilah nak..,"panggil Bapak.
"Iya pak, Zahroh sedang mencuci baju pak, ada apa," tanya Zahroh dengan sopan dan mulai mengambil ancang-ancang untuk duduk di hadapan bapaknya.
"Pergilah ke kota untuk menemui Pak Sulkan, dia adalah teman baik bapak, katanya ada sebuah pondok pesantren yang membutuhkan guru perempuan yang siap bermalam menjadi murobbiyah (penjaga asrama putri),"kata Bapak.
"Maaf pak, Zahroh takut kalau berangkat sendiri dan bagaimana dengan Bapak dan Ibu nanti di rumah,"jawab Zahroh dengan sedikit ragu karena selama ini hampir tidak pernah dia menolak permintaan Bapaknya.
"Kalau begitu biar besok pak Sulkan yang akan kesini dan menjemputmu, nanti biar Bapak yang telepon,. jangan khawatir Bapak dan Ibu akan menjengukku tiap bulan, disana kau bisa mengamalkan ilmu sekalian mencari banyak pahala,"kata Bapak dengan nada penuh keyakinan.
"Yasudah pak, nanti malam Zahroh siapkan semuanya,"jawab Zahroh dengan pelan dan singkat.
Di dalam hati, sejujurnya dia tidak ingin meninggalkan dusunnya, mengajar anak-anak mengaji ketika sore hari di surau sudah membuatnya cukup bahagia walaupun dibayar seikhlasnya.
Zahroh tidak pernah memikirkan tentang nominal ketika mengajar mengaji anak-anak, karena baginya sudah cukup hasil sawah untuk dimakan sehari-hari. Tidak pernah dia fikirkan sedikitpun kekhawatiran akan kelaparan atau tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup. Bagi Zahroh, hidup adalah ibadah sambil tirakat untuk itu dia selalu tawadhu untuk membantu kedua orang tuanya.
"Ingat Zahroh, nanti ketika engkau di pesantren jangan pernah lupa untuk selalu mengabari Bapak dan Ibu tentang kondisimu, kau akan diberikan jatah libur pulang ketika akhir semester,"lanjut Bapak.
"Iya pak, kalau begitu Zahroh lanjutkan mencuci baju di belakang,"jawab Zahroh lalu beranjak dari tempat duduknya.
Sambil mencuci baju, Zahroh terisak menangis karena besok dia akan pergi ke kota Surabaya dan meninggalkan Bapak dan Ibunya di dusun. Sebagai anak yang terbiasa berbakti, dia tidak mungkin menolak permintaan Bapaknya, walaupun dalam hati kecilnya sangat berat untuk mengiyakan.
"Ya Allah, semoga ini jalan terbaik darimu,"ucap Zahroh lirih. Pengalaman pertama keluar dari dusun ke kota membuat mentalnya harus siap menerima segala kemungkinan yang terjadi. Dia belum memiliki pengalaman banyak untuk mengajar, Namun Zahroh berusaha nanti jika mengajar di Pesantren akan terus belajar untuk mendapatkan pengalaman sekaligus pahala yang banyak.

Mn cerita lengkapny
ReplyDeletePost a Comment