Kisah Ustadzah yang menjadi Wanita Binal Episode 3


Laki-laki itu berwajah kebapakan, mungkin usianya sekitar 40an, tinggi, dan berpotongan rapi. Aku yang ketakutan di pojokan serasa ingin membunuh diriku saat ini jika ada benda tajam di dekatku. Namun sayangnya tidak ada alat yang bisa kupakai untuk membunuh diriku sendiri. Imanku yang tebal mendadak lenyap, aku ingin saat ini hanya mimpi buruk di tidurku, tapi ini kenyataan.

Kenyataan pahit yang harus aku terima, dijual oleh teman baik Bapak di kota yang aku sendiri tidak tahu mengapa nasib buruk ini menimpaku. Impian menjadi seorang ustadzah di pesantren hanyalah harapan semu, mimpi untuk membahagiakan Bapak dan Ibu di dusun sudah pupus. Anak perempuan semata wayang yang dibesarkan menunggu kehancuran yang sudah di depan mata.

"Mari, nona mendekatlah, kau pura-pura atau memang benar masih lugu,"kata lelaki itu kepadaku sambil mendekatkan dirinya.

Aku tidak menjawab apa-apa karena aku merasakan tubuhku sangat panas dan gerah, aku mulai gelisah entah mengapa.

***

Jika bisa meminta dan langsung dikabulkan, aku ingin sekali dicabut saja nyawaku saat ini. Perbuatan bejat yang telah kulakukan karena tidak tau harus berbuat bagaimana sudah secara singkat menghancurkan masa depanku sendiri. Kini aku merasakan sakit jiwa dan ragaku, aku mengalami tekanan batin yang luar biasa. Aku tidak ingin melakukan apapun, tidak ingin membersihkan diriku, percuma aku sudah kepalang kotor dan najis. Aku tidak ingin berdoa lagi, tidak ingin memohon kepada Tuhan lagi, aku tidak ingin makan, dan aku hanya ingin berdiam diri dan menatap tembok kamar bercat putih tanpa memikirkan apapun. Aku bagaikan burung dalam sangkar yang lemah dan tidak berdaya.

Bayangan anak-anak bersenda gurau ria di surau dusun hadir di depanku, aku menangis histeris menyesali semua yang telah terjadi kepadaku. Tiba-tiba kunci yang dipintu rapat terbuka, Klek!

“Makanlah, Thalita! Malam ini kau akan melayani Pak Wiryo lagi!,” kata Tante Meysin dengan ketus.

Rupanya laki-laki itu bernama pak Wiryo, apa salah istrinya di rumah sehingga dia mencari pelampiasan di luar rumah. Aku sudah tidak habis pikir dengan kehidupan laki-laki di kota besar. Semoga Bapak menjadi laki-laki setia untuk Ibu.

“Sepertinya, kau memiliki kemampuan terpendam yang luar biasa di balik kerudung kumalmu itu,” ejek Tante Meysin.

“Kuberikan kau makanan enak, vitamin, dan perawatan yang bagus agar kau juga bisa menghasilkan banyak uang untuk dirimu sendiri, kuberikan kau dua puluh juta nanti kau bisa titip Sulkan untuk mengirim uang ke orang tuamu,”lanjut Tante Meysin.

“Jika kau berikan pelayananmu yang terbaik, maka kau akan jadi primadona disini dan tentunya kau akan bergelimang harta, hahaha,” kata Tante Meysin sambil tertawa.

Bersiaplah siang ini kau akan kubawa ke pusat perbelanjaan, belanjalah sepuasmu, jangan lupa kau harus mengganti bajumu dengan model baru, seperti rok mini dan baju-baju yang ketat, buang semua baju jelekmu dari desa,”cerocos Tante Meysin.

Rasanya aku sudah sangat muak sekali mendengar apa yang dia bicarakan, terbesit ide untukku nanti ketika aku di pusat perbelanjaan aku akan lari dan minta tolong orang untuk mengantarkanku balik pulang ke desa.

“apa bisa ya,” gumamku dalam hati. Aku sangat lugu sekali dan tidak pernah menjamah dunia luar, memiliki rencana kabur dari Tante Meysin di pusat perbelanjaan kota besar apakah yakin akan berhasil. Kumantabkan hatiku, semoga nanti ada orang baik yang mau menolongku.

***

Aku bersiap mengganti bajuku dengan malas, baju yang disiapkan Tante Meysin begitu pendek dan ketat. Aku belum terbiasa memakai baju yang seperti ini. Mana mungkin aku keluar bertemu orang banyak dengan memakai baju yang rasanya seperti telanjang. Tiba-tiba Tante Meysin masuk dan memaksaku memakai baju yang dia siapkan sambil mengancamku seperti biasa.

“Bunuhlah aku jika kau mau,”kataku singkat.

“Jangan bodoh Thalita, berani kau menantangku sekarang, baik bukan kau yang aku bunuh tapi Bapak dan Ibumu di desa yang akan aku bunuh,” hardiknya.

Sontak air mataku berlinang, mimpi apa aku hingga bisa bernasib seperti ini. Aku merasa depresi dan kecewa kepada Tuhan. Mengapa aku yang taat dan berbakti mendapati hidup yang buruk, andai waktu itu Bapak menolak permintaan pak Sulkan yang keji itu. Andai waktu itu aku mampu membantah perintah Bapak. Penyesalan hanya tinggal penyesalan, biarlah hidup berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Aku ingin mematut diriku memakai pakaian yang sungguh jauh dari kata sopan, namun di kamar ini tidak ada cermin. Mungkin tante Meysin sengaja mengisi ruangan ini dengan perabotan seperlunya agar aku tidak bisa berulah. Tentunya dia juga sudah lebih faham apa yang harus dikerjakan agar tawanannya tidak lepas. Nyaliku semakin ciut melihat tante Meysin datang ke dalam kamar dengan dua laki-laki berperawakan tinggi dan badannya besar.

“Ayo, cepat berdiri kita akan bersenang-senang,” kata Tante Meysin.

“Wah bos, pantes laku mahal, ini barang premium bos,” ujar salah satu laki-laki kepada tante Meysin.

Aku sangat risih sekali dua laki-laki di depanku memandangiku dari atas sampai bawah, aku serasa ditelanjangi bulat-bulat. Aku tidak terbiasa memakai sandal yang berhak tinggi, biasanya di dusun aku cukup memakai sandal selop biasa jika ingin bepergian jauh. Berulang kali hampir terjatuh tapi tante Meysin tetap memaksaku memakainya.

***

Tiba di parkiran mobil sebuah pusat perbelanjaan atau disebut mall kata tante Meysin tadi, aku cukup kikuk dengan penampilan yang seperti ini. Banyak pasang mata di parkiran yang tertuju padaku. Aku berusaha menutupi tubuhku tapi percuma. Tank top berbahan kaos yang sangat ketat, rok yang sangat pendek, ditambah sandal hak tinggi yang sangat menyiksaku. Aku mencoba berfikir keras bagaimana caranya nanti aku bisa melarikan diri dari manusia-manusia laknat ini.

Sebagai seorang perempuan yang sehari-hari hanya di rumah dan sebagian waktu membantu Bapak dan Ibu di sawah, sempat membuatku takjub melihat pemandangan yang ada di dalam mall. Lampu-lampu besar yang menyala, deretan penjual baju dan berbagai barang, bau wangi yang menyeruak. Andai hari ini aku ke mall dengan takdir dan nasib yang berbeda mungkin aku sangat bahagia menikmatinya.

“Ayo pilihlah lingerie yang bagus dan menantang,” kata tante Meysin sambil menarik tanganku masuk ke dalam toko pakaian dalam.

“Jono dan Joni tunggu di depan,” lanjut kata tante Meysin.

“Tante, aku mau ke kamar mandi sebentar sepertinya kemaluanku sangat perih dan butuh dibersihkan,” ujarku dengan tatapan memelas.

“Oke jangan lama-lama, Jono! Joni! Tunggu Thalita di depan toilet wanita, jangan sampai dia kabur,” kata tante Meysin dengan sedikit membentak.

Aku segera mengikuti Jono dan Joni ke toilet wanita, karena aku sendiri tidak tau ada di sebelah mana sekaligus aku mengawasi situasi sekitar. Di dalam kamar mandi, aku sungguh tidak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin lari dari orang-orang laknat itu. Dengan fikiran yang bingung, aku mencoba mengamati sekitar toilet. Tatapanku tertuju ke ventilasi atas yang cukup tinggi namun ada celah kaca yang masih bisa terbuka.

Aku berusaha sekuat tenaga naik ke atas kamar mandi dengan memanjat dinding dan memecah kaca dengan sandal hak tinggi yang aku gunakan. Pyaaarr! Kaca berhasil pecah dalam sekali pukulan.

Post a Comment

Previous Post Next Post