Suami Rahasia Eps.17

                
Sore ini Alisa akan menemui Revan, entahlah Revan sudah sampai atau belum di kedai yang kemarin mereka rencanakan.


Sebenarnya Alisa sedikit ragu, entah mengapa hatinya sangat berat untuk pergi, seperti ada suatu hal yang menghalangi dirinya. Tapi Alisa menampik itu semua, ia sudah sangat lama tidak bertemu Revan, bagaimana kabar kekasihnya itu? Apakah masih sama?


Sore hari memang biasanya banyak santri yang keluar kompleks pesantren, tapi pastinya ada aturan yang diberikan dewan santri, mereka harus sudah kembali maksimal empat puluh menit sebelum azan magrib.


Kenapa wajah Gus Ali kebayang terus yah? Batin Alisa tidak tenang.


Butuh waktu lima belas menit untuk Alisa sampai di tempat yang mereka janjikan, di sana sudah ada Revan yang tersenyum menyambut kedatangannya, tentu saja Alisa ikut tersenyum melihat wajah meneduhkan sang kekasih.


Revan merentangkan tangannya hendak memeluk Alisa, tapi entah mengapa Alisa merasa malu jika harus berpelukan seperti dulu, apalagi dengan pakaian seperti sekarang. Alih-alih menyambut pelukan Revan, Alisa malah mengambil tangan Revan dan menyalaminya, bukan dikecup, tapi ditempelkan ke kening.


Revan cukup terkejut dengan tindakan Alisa, di matanya kini Alisa sudah lebih banyak berubah, tentu Revan senang melihat hal itu. Revan mencintai Alisa apa adanya, Revan tidak pernah meminta Alisa harus seperti ini atau itu, Revan selalu meminta Alisa untuk jadi dirinya sendiri, dan ketika kekasihnya menjadi pribadi yang lebih baik, tentu saja Revan sangat mendukungnya.


“Calon istri sholehah,” ucap Revan mengusap kepala Alisa yang tertutup khimar 


“Jangan bilang gitu, Alis masih belum berhak mendapatkannya.”


Mereka duduk berhadapan dan memesan minum, Revan tidak henti memandang wajah Alisa yang saat ini jauh lebih memesona.


“Alis colok nih mata kamu! Liatinnya jangan kayak gitu ih!”


Revan terkekeh kecil.


“Kamu makin cantik saja Al.”


“Ya iyalah, kalo gak cantik mana mungkin kamu sampai terpesona segitunya.”


Mereka berbincang berbagai hal, sesekali terdengar tawa dari keduanya, beginilah jika Alisa bertemu Revan, walaupun awalnya tampak ragu, pada akhirnya seakan dunia milik berdua.


“Jadi, sekarang sudah betah nih di pesantren?”


“He'em,” angguk Alisa. “Lumayan lah, Alis sudah mulai terbiasa dan mulai menerima takdir Alis di sini.”


“Aku senang dengarnya, apa pun keputusan kamu, aku akan selalu mendukung terlebih jika keputusan itu ke arah kebaikan. Aku sadar aku bukan cowok yang baik, aku gak bisa membimbing kamu Al, untuk membimbing diri sendiri saja aku masih susah. Tapi walau begitu, aku selalu berharap kamu bisa lebih baik dari aku dalam hal apa pun.”


Alisa tersenyum memandang wajah kekasihnya, dipegangnya tangan Revan dengan erat.


“Revan itu cowok terbaik yang pernah Alis kenal, Revan selalu temenin Alis, Revan selalu lindungi Alis, Revan selalu bela Alis, apa itu yang namanya gak baik? Bagi Alis, Revan itu segalanya, Alis bisa menemukan kebahagiaan Alis saat bersama Revan, Alis selalu berharap kita bersama sampai maut memisahkan.”


Revan menatap Alisa dalam, seakan ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Aku memang bisa memberimu kebahagiaan dunia Al, tapi tidak dengan akhirat. Akan ada yang memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya, tapi sepertinya itu bukan aku.”


Alisa mengernyit tidak mengerti.


“Maksudnya gimana sih? Jangan bicara seolah-olah kamu akan pergi!”


Revan menengadahkan kepalanya, ia kemudian menatap Alisa intens.


“Entahlah, aku juga gak tahu Al, aku cuma merasa kita gak akan ditakdirkan bersama selamanya. Tapi kamu harus tahu, jika cinta aku itu tulus, selama aku ada, aku akan berusaha membuat kamu bahagia.”


“Sumpah Alis gak ngerti maksud kamu, please jangan bikin Alis takut,” mohon Alisa, entah mengapa matanya sudah berkaca-kaca.


“Terkadang tidak mengerti menjadi lebih baik, karena semesta selalu memberi kejutan yang justru berakhir menyedihkan.”


Alisa termenung, kenapa kekasihnya menjadi puitis?


“Sepertinya kapasitas otak Alis memang gak cukup buat mecahin kata-kata kamu,” celetuk Alisa menopang dagunya, ia terlihat seperti tengah berpikir keras.


Revan tidak sanggup lagi untuk tidak tertawa, inilah yang ia sukai dari Alisa, kekasihnya ini terlalu jujur.


“Alis.”


“Hemm?”


“Jangan kangen, yah!”


“Siapa juga yang kangen sama kamu!”


Dasar Alisa!


Lain di mulut lain di hati, hatinya masih mengakui jika Revan masih bersemayam di sana, walaupun ada nama lain yang mencoba masuk mendominasi hati dan pikirannya.


Setelah Revan pulang, Alisa masih betah di kedai itu, padahal batas waktu yang diberikan sudah habis, Alisa masih merenungi setiap kata-kata yang Revan katakan, bohong jika dirinya akan melupakan setiap perkataan Revan tadi. Berbagai praduga hadir di kepala Alisa, apakah Revan ingin putus dengannya? Atau justru, Revan selingkuh di belakangnya?


“Engga-engga, Revan gak mungkin khianati Alis.”


Alisa menggelengkan kepalanya lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja. 


“Alisa,” panggil seseorang mengagetkan Alisa, Alisa mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara.


“Eh, Gus Ali,” ucap Alisa, kaget.


Hebat sekali Gus Ali bisa langsung mengenali Alisa, tapi kenapa Gus Ali bisa ada di sana juga? 


“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya, dingin.


“Gus Ali juga ngapain ada di sini?”


“Saya tanya, kamu sedang apa di sini?” ulang Gus Ali, penuh penekanan.


“Eh. Itu Gus A-Alis lagi nyari angin aja,” bohong Alisa.


“Pulang! Jam segini masih keluyuran, cobalah untuk menghargai peraturan, Alisa!”


Alisa malah mengerucutkan bibirnya, kenapa Si Alis malah terlihat seperti wanita manja? Dan sekarang Alisa malah mengulurkan tangannya, tentu hal itu membuat Gus Ali keheranan.


“Salim dulu Gus, marahnya dipending dulu aja,” ujar Alisa.


Gus Alis menyambut uluran tangan Alisa, dengan sengaja Alisa mencium tangannya Gus Ali.


“Gus mau apa ke sini?” tanya Alisa masih penasaran.


“Mencari anak ayam yang hilang.”


Alisa melongo, memangnya Gus Ali punya ayam? 


“Gus pelihara ayam?”


“Iya.”


“Berapa?” tanya Alisa, antusias.


“Satu.”


“Sudah ketemu belum, Gus?” tanya Alisa kembali.


“Sudah.”


“Mana?” Alisa tidak melihat Gus Ali membawa anak ayam.


“Di depan saya.”


Alisa celingukan mencari anak ayamnya Gus Ali, tapi ia tidak menemukannya.


Bentar-bentar, kalau ayamnya di depan Gus Ali, itu berarti Gue dong? Batin Alisa.


“What?! Jangan bilang anak ayamnya itu Alis,” curiga Alisa memicingkan matanya.


“Syukurlah jika otak kamu masih berfungsi.” 


Alisa mengentak-entakkan kakinya, ia tidak terima dirinya disamakan dengan ayam, tapi sayangnya Alisa tidak bisa mendebat, entah kenapa Gus Ali selalu berhasil membuatnya terdiam.


“Ayo pulang!”


Alisa berjalan mengikuti Gus Ali, ia tepat berada di belakang Gus Ali.


“Alisa, kamu tahu wanita yang terhormat itu seperti apa?” tanya Gus Ali.


“Tahu lah,” sahut Alisa. “Mereka yang bisa duduk di kursi dewan kan Gus?”


“Bukan.”


“Terus yang gimana dong?”


“Wanita yang terhormat adalah dia yang bisa menjaga pandangan dan auratnya, dia yang menjadikan malu sebagai pakaiannya, dan menghindari berhubungan dengan yang bukan makhromnya.”


“Gus Ali lagi nyindir Alis kan?”


“Saya tidak menyindir kamu, kamu terlalu istimewa, saya hanya tidak ingin keistimewaan kamu dimiliki orang lain.”


Alisa lagi-lagi dibuat bingung, kenapa orang-orang suka sekali berbicara ambigu, ia bukan anak pintar yang bisa langsung mengerti.


“Gus, apa Alis istimewa di hidup Gus Ali?”


Entah mengapa Alisa tiba-tiba saja ingin bertanya hal itu, seakan pertanyaan itu tercipta begitu saja.


“Pergilah.”


Gus Ali tidak menjawab apa pun, ia malah menyuruh Alisa pergi, maksudnya pergi ke asrama karena mereka sudah sampai di gerbang pesantren.


“Gus, jawab dulu dong!” paksa Alisa meminta jawaban.


“Kamu yakin ingin tahu jawabannya?” 


Alisa mengangguk mantap.


“Anti habibati.”


Alisa berdecak kesal.


“Gus, please lah ngomongnya pakek bahasa manusia saja, jangan pakek bahasa yang Alis gak ngerti!”


Gus Ali tersenyum simpul dan meninggalkan Alisa begitu saja.


Sepeninggalnya Gus Ali, Alisa langsung ke asrama dengan kaki yang dihentak-hentakan, ia sungguh kesal karena Gus Ali selalu saja membuatnya penasaran.


“Bentar-bentar, katanya kan cowok sama cewek gak boleh berduaan, gak boleh bersentuhan juga, tapi kok Gus Ali malah anteng-anteng saja kalo sama gue?”


“Harusnya kan Gus Ali nundukin pandangannya, tapi kok malah ...,” gumam Alisa.


“Apa jangan-jangan ....” 


Alisa membulatkan matanya mengingat kemungkinan yang ada dalam pikiran nya .

Jangan-jangan dia Gus gadungan _sambung batin Alisa .

Tbc

Jawab jujur yah!


Kalian tim mana?


Alisa Revan


atau


Alisa Gus Ali


Kasih alasannya juga yah :') TO BE CONTINUE

Post a Comment

Previous Post Next Post