Suami Rahasia Eps.16


Sebelum acara mulai, Alisa sudah tidak bisa duduk diam, mungkin ini akan menjadi momen terburuk dalam hidupnya. Bayangkan saja, seorang Alisa harus berpidato di depan umum? Seumur-umur Alisa belum pernah melakukan nya, kalau ikut demo ke gedung wakil rakyat memang sudah beberapa, tetapi kan euforianya berbeda.


"Sumpah, gue deg-deg'an," ucap Alisa berbicara sendiri, ia masih terus menghafal materi yang akan disampaikan nanti.


"Kenapa temanya pake tentang pacaran, sih?! Kan jadi nyindir diri sendiri," dumel Alisa.


Zara dan dua teman lain nya hanya tertawa melihat keriwehan Alisa.


Kini giliran Alisa menyampaikan pidatonya, Alisa menetralkan detak jantungnya dan berusaha berjalan sesantai mungkin.


Semua pandangan mata terarah padanya, jujur saja ia sangat malu, apalagi banyak pasang mata yang melihat ke arahnya


Bukan mengapa, tapi saat ini Alisa memang terlihat sangat anggun dan cantik, Gus Ali yang juga ada dibarisan santri putra terlihat sangat terkejut, ia tidak menyangka Alisa akan menjadi pengisi acara pada malam ini, sorot mata tajamnya tidak henti mengamati setiap gerak gerik Alisa, ada senyum tipis tersungging dari bibir nya tatkala Alisa berdiri di depan sana.


Rasa bangga seorang suami pada istrinya.


Antara santri putra dan santri putri memang terpisah oleh hijab, jadi mereka tidak bisa mencuri-curi pandang, walaupun terkadang yang duduk di sisi hijab biasanya mereka surat-suratan, sekedar untuk bertanya siapa dan orang mana, hal lumrah yang sudah menjadi rahasia umum, bahkan menjadi jembatan terjadinya cinta lokasi antara para Santri.


Waduh, Gus Ali napa liatin terus, sih? Kan makin deg-degan_batin Alisa.

"Khemm." 


Alisa berusaha menetralkan detak jantung nya.


Semua diam dan bersiap mendengan pidato dari seorang Alisa, seorang Santriah yang sudah terkenal sebagai si biang onar.


"Hallo, guys, selamat malam." Alisa terdiam sebelum akhirnya tersadar. "Eh, maksudnya Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh." 


Dasar Alisa!


Alisa kemudian memulai nya dengan muqadimah berbahasa arab walaupun cukup banyak tersedat, semua cukup lancar hingga sampai di pertengahan pidato nya.


"Pacaran itu jelas dilarang agama, berdua:an antara laki-laki dan perempuan yang bukan makhrom sangat tidak diperboleh kan, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh makhromnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh makhrom nya, H.R. Muslim.

"Sejatinya budaya pacaran adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia akibat pengaruh globalisasi, sayangnya banyak dari kita yang mengikuti budaya tersebut hanya demi sebuah trend, bahkan banyak yang menganggap pacaran sebagai salah satu ciri pendewasaan diri. Nyatanya, pacaran adalah perbuatan dosa yang ujungnya akan membawa kita kepada zina, dan tentunya pacaran hanya akan merugikan diri sendiri bahkan orang lain." 


Alisa kini terdiam, ia lupa kelanjutan dari pidatonya, tatapan Gus Ali yang terlihat kagum pada dirinya semakin membuat Alisa salah tingkah.


"Emmm-emmm." 


Aduh, Gus Ali bikin gue gugup aja_batin Alisa .

"Gus Ali, jangan liatin mulu dong!" ucap Alisa, keceplosan.


Seketika suasana menjadi riuh dengan sorakan, Alisa yang tersadar seketika memalingkan wajahnya yang memerah, tangan nya sudah keringat dingin, kemana Alisa yang keras kepala dan pecicilan? 


"Sudah-sudah. Alisa ayo lanjutka," ujar MC.


Alisa menetralkan detak jantungnya dan berusaha bersikap sebiasa mungkin, mulut nya memang kadang tidak bisa diajak kompromi, ya begini lah resiko orang yang asal jeplak, kadang merugikan dan bikin malu diri sendiri.


"Emm jadi ... ya pokoknya kalian jangan pacaran, kalau misalnya suka langsung saja ajak nikah. Percayalah, pacaran cuma bikin duit kalian habis."


Alisa tersenyum, akhirnya ia bisa mengakhiri pidatonya.


"Nah, Gus Ali sendiri kapan ajak alis nikah? Alis sudah siap kok jadi istri" 
Nah kan! Si Alis keseplosan lagi.


Yakin sih ini mah dari hati, apakah benih-benih cinta itu sudah muncul? Lalu, Revan mau di kemanakan? 


Siapapun, tolong tenggelamin gue saat ini juga_batin Alisa.

Alisa gelagapan, sementara Gus Ali nampak terkejut, walaupun wajahnya tetap saja datar seperti biasa. Alisa malu bukan main, tanpa salam ia langsung lari keluar dari aula pesantren.


Alisa membenamkan wajahnya di bantal, wajah Alisa masih semerah kepiting saking malunya.


“Bodoh lo Al, kenapa pakek bilang gitu sih? Muka gue mau taruh di mana? Citra gue pasti makin buruk di mata Gus Ali.”


Ahh Bunda, Alis malu. Batin Alisa.


Alisa mengerucutkan bibirnya dan menangis, entah mengapa tiba-tiba saja Alisa ingin menangis.


“Pasti Gus Ali jauhi gue, terus siapa yang bakalan tegur gue lagi kalo salah?”


Ucapan Alisa seakan mengatakan jika dirinya membutuhkan Gus Ali dalam hidupnya.


Selang satu jam, teman-temannya datang, itu berarti menandakan acaranya sudah selesai.


“Ekhem-ekhem, ciee yang mau jadi istri Gus Ali,” goda Fahira.


Zara tertawa puas melihat wajah temannya yang tidak bersahabat, sementara Mia hanya tersenyum.


Alisa melemparkan bantal tepat ke wajah Fahira, untung teman-temannya sudah menerima Alisa apa adanya. Jika tidak, mungkin sudah terjadi perang dunia ketiga.


“Bisa diem gak sih?!”


Bukannya berhenti, mereka malah semakin menertawakan dan menggoda Alisa.


“Ciee yang berharap dihalalin Gus Ali,” goda Zara.


“Itu keceplosan,” elak Alisa.


“Berarti dari hati, dong?” sahut Mia.


“Apaan sih, Alis cintanya sama Revan doang, titik!”


“Yakin, nih?” goda Zara menoel-noel pipi Alisa.


“Ya ... ya yakinlah.”


Apa gue masih cinta sama Revan? Batin Alisa, dilema. 


💍💍💍


Malam berlalu, kini mentari pagi mulai menyapa menampakan sinarnya. Satu hal yang Alisa rutuki, kenapa hari ini harus jadwal Gus Ali? Apakah Alisa masih mampu menampakah wajahnya?


Alisa lebih banyak diam, ia hanya duduk tanpa memperhatikan pandangan teman-teman sekelasnya yang terarah pada dirinya, sudah pasti ini karena kejadian semalam.


Alisa terhenyak saat Gus Ali masuk kelas, seketika ia menunduk malu.


Gus Ali tetap sama, datar dan gak bisa tersentuh. Batin Alisa


Gus Ali mulai mengabsen, kini giliran nama Alisa yang dipanggil.


"Alisa Afsheena." 


Merasa namanya dipanggil, bukan nya mengangkat tangan, Alisa malah beringsut dari kursinya, entah apa yang ada dipikiran Alisa hingga dia malah bersembunyi di kolong meja.


"Alisa Afsheena," panggil Gus Ali, kedua kalinya


Merasa tidaak ada jawaban, Gus Ali melirik ke meja dimana biasanya Alisa duduk bersama Zara.


Perasaan tadi pas masuk anak itu masih ada, tapi kenapa sekarang kursinya kosong?


Gus Ali berjalan menghampiri meja Alisa dan Zara, salah besar jika Alisa ingin mengelabui Gus Ali. Gus Ali itu Dosen, ia sudah banyak menemuka Mahasiswa yang tingkahnya seperti Alisa.


Gus Ali kemudian duduk bertumpu pada satu kaki, ia menatap Alisa yang tengah bersembunyi sambil menutup wajah nya dengan buku.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Gus Ali datar.


Alisa terlonjak kaget, ia mengaduh karena kepalanya terbentur meja.


"Eh, Gu-gu-gus Ali."


"Jawab saya, Alisa!"


"I-ini, Gus, ini alis lagi cari bolpoin, tadi jatuh."


Gus Ali mengernyitkan keningnya, ia kemudian mengambil bolpoin di atas meja Alisa.


"Jangan banyak alasan! Ini bolpoin kamu, kan?" 


Alisa gelagapan, harus mencari alasan apa lagi dirinya?


"Eh, i-itu maksudnya alis lagi cari kutu, Gus, ah iya kutu, tadi kutu di hijab Zara jatuh, Gus, kan kasihan kalau ke injek." 


Alasan macam apa itu, Alisa? Sungguh tidak masuk diakal.


Semua penghuni kelas tertawa, termasuk Gus Ali yang terkekeh kecil, sementara Zara yang namanya menjadi tumbal Alisa, kini melotot tidak terima.


"Kamu memang unik," ucap Gus Ali.


Setelah kelas dengan Gus Ali selesai, Alisa terus diomeli oleh Zara, ia hanya meringis sambil meminta maaf.


“Maaf, Zar, tadi Alis bingung harus cari alesan apa.”


“Terus kenapa harus aku yang dikorbanin? Ihh kamu mah bikin aku malu di depan Gus Ali saja Al,” kesal Zara mengerucutkan bibirnya.


“Hehe, sorry.”


Setelah di asrama, Alisa meminjam ponsel ke bagian komunikasi, ia sangat merindukan Revan, mungkin dengan menghubungi Revan, ia bisa mengalihkan perasaan‘nya yang kini tidak menentu.


Alisa mencari tempat aman dan mulai mendial nomor Revan, untung saja Revan langsung mengangkatnya.


“Hallo, ini siapa?”


“Revan, ini Alis.”


“Astaga Alis, kenapa kamu baru hubungi aku?”


“Susah Van, ini juga Alis sembunyi-sembunyi.”


“Aku kangen banget sama kamu Al.”


“Dikira Alis gak kangen juga?!”


Terdengar kekehan kecil di seberang sana, Revan memang sangat merindukan kekasihnya, tapi Revan tidak tahu harus ke mana menghubungi Alisa, Revan juga tidak mungkin datang lagi ke pesantren kekasihnya itu.


“Kita ketemuan yuk Al, aku akhir-akhir ini selalu mimpi ‘in kamu.”


“Emm, di mana?”


Alisa sedikit ragu, pidatonya tadi malam sedikit banyak mempengaruhi pikirannya.


“Di sekitar sana aku liat ada semacam kedai gitu, gimana kalo kita ketemuan di sana saja? Gak jauh kok, dari sana paling sepuluh menitan.”


“Baiklah, kapan?”


“Kamu bisanya kapan? Kalau aku sih kapan saja siap.”


“Besok?”


“Sip, besok aku ke sana.”


Alisa tidak bisa lama-lama menelepon Revan, ia segera mengakhiri panggilannya setelah menyetujui rencana mereka.


Sepertinya penyakit Alisa kembali kumat, Alisa terlihat begitu bahagia, untuk sementara ia melupakan nama Gus Ali yang sejak semalam selalu bersemayam di pikirannya. TO BE CONTINUE

Post a Comment

Previous Post Next Post