Kisah Ustadzah yang menjadi Wanita Binal Episode 1


Mataku masih sayu dan berulang kali aku menguap, rasanya malas bangun di dinihari ini, aku tertatih mencari tongkatku untuk berjalan. Kubuka pintu bambu belakang rumahku menuju gentong air untuk membasuh wajahku. "Byuurrrr....," sontak aku terkesiap karena dinginnya air yang kurasakan menusuk kulitku. Aku mengambil kayu di bumbungan dan mulai menyalakan api, mengambil panci hitam dari dinding bambu, dan memasak air untuk membasuh badan Si Mbok. Semenjak kepergian Mbah Kakung, Si Mbok sakit-sakitan dan berakhir lumpuh karena stroke. Ditambah lagi ada benjolan karena tumor yang bersarang di perut bagian bawah Si Mbok.

Setelah membasuh badan Si Mbok, Kuambil segenggam beras untuk menanak nasi, menggoreng tahu, dan membuat sambal kecap kesukaan Si Mbok. "Syukur kepadamu Gusti, rasanya nikmat sekali," gumamku lirih sambil merapal shalawat di hati pagi ini aku masih diberikan nafas dan kehidupan. Setelah selesai memasak, aku bersiap membuat kopi hitam panas dan membungkus nasi untuk dibawa ke sawah. Walaupun hidupku masih penuh perjuangan, aku tak pernah mengeluh karena yakin nanti Tuhan akan memberikan karunianya yang melimpah.

Setelah sarapan, aku menuang kopi hitam ke dalam botol bekas air mineral yang sudah usang, lalu menyiapkan ubi kukus dan memasukkannya ke dalam tas kain untuk dibawa ke sawah tempatku bekerja. Lalu, kulanjutkan membungkus nasi dan tahu goreng beserta sambal kecap.

Di usiaku yang masih lima belas tahun, aku sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan. Aku sudah terbiasa untuk bekerja keras setiap hari. Tapi, aku bersyukur karena pekerjaanku baik dan halal dari keringat jerih payah sendiri. Jangan tanyakan bangku sekolah padaku, aku tidak pernah mengenyam dunia pendidikan. Kadang aku merasa sangat iri kepada anak-anak seumuranku yang bisa berjalan normal tanpa tongkat, punya tubuh dan fisik yang sempurna, bisa sekolah, punya handphone dan sepedamotor.

“Ah, sudahlah , jangankan untuk membeli barang-barang keinginan dan kesukaan, bisa makan setiap hari saja sudah bersyukur,” ucapku lirih sambil menaruh sepiring ubi kukus di sebelah kasur tempat Mbok berbaring.

Tiba-tiba Mbok membuyarkan lamunanku. “Nun, maafin Mbok yang terus nyusahin ya nak,”kata Si Mbok dengan mata berair.

“Sudahlah Mbok, yang penting Mbok sehat dan panjang umur biar nanti kita hidup enak bareng Mbok,” jawabku sambil mencium takzim tangannya.

Kuambil sabit dari dinding bambu dan berpamitan kepada Si Mbok. Aku berdoa di hati semoga hari ini tidak turun hujan atau jika turun hujan tidak terlalu lebat agar seluruh pekerjaan bisa selesai tepat waktu.

“Nun berangkat dulu ya Mbok, Assalamualaikum,”pamitku sambil menutup pintu rumah yang terbuat dari bambu. Sayup-sayup kudengar Mbok mendoakanku agar sehat dan diberikan nasib yang baik kedepannya. Kuaminkan doa Mbok di dalam hatiku, aku meyakini doanya akan mustajabah.

Hawa sejuk menerpa wajahku, embun membasahi kaki-kakiku, angin semilir samar-samar menerbangkan helai rambutku. Dari kejauhan kulihat kabut tebal masih menyelimuti areal persawahan, mentari masih malu-malu untuk muncul ke peraduannya. Burung-burung kecil berterbangan di atas langit dengan riang gembira. Bunyi batang-batang pohon bambu yang diterpa angin bagaikan lantunan musik dari angklung, sangat indah dan merdu. Ditambah lagi bunyi gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di sisi sawah terdengar sangat tenteram untuk dirasakan di hati. Begitu besar ciptaan Yang Maha Kuasa.


1 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post