Sepiring nasi goreng telah tandas masuk ke dalam perutku beserta segelas susu, aku hendak mandi dan bersiap diri menyambut lelaki tua bangka itu. Guyuran air hangat yang mengalir begitu nyaman, setelah selesai mandi aku melilitkan handuk untuk menutupi tubuhku. Baru keluar dari kamar mandi dengan kondisi rambut yang basah hampir saja aku berteriak, ternyata pak Wiryo sudah menunggu di dalam kamarku.
"maaf tuan, saya mandi terlalu lama,"kataku sekenanya.
" Tidak papa, jangan takut, kemarilah," kata pak Wiryo.
BAB VI
Percikan Api
“Thalita, ini tambahan untukmu belilah untuk belanja apapun yang kamu suka, aku pergi dulu,” kata Pak Wiryo sambil memakai baju dan celana.
Aku yang masih berposisi di dalam selimut menerima uluran segepok uang yang diberikan oleh Pak Wiryo, banyak sekali entah berapa jumlahnya. “Terima kasih banyak pak,” ucapku singkat sambil mencium tangannya. Entah kebiasaan untuk sopan kepada yang lebih tua membuatku terbiasa mencium tangan tanpa memandang bahwa Pak Wiryo sudah berlaku bejat kepadaku.
“Jangan takut dengan Meysin, aku tak kan pernah bilang jika memberimu uang tambahan, yang penting kau sehat sehingga kapanpun aku mau, kau siap untukku,” jawab Pak Wiryo sambil mengambil kunci mobil yang dia letakkan di atas meja riasku.
Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, pak Wiryo sudah pergi. Kudengar music dangdut di luar sudah dimatikan. Suasana rumah juga sangat sepi, mungkin inilah yang dinamakan kehidupan malam, ketika malam bangun dan ketika pagi tertidur sepi seperti malam hari. Aku bangkit dari kasur dan bersiap untuk mandi. Kuakui kehidupanku disini kurasakan memang jauh lebih enak daripada di dusun, kamarku sangat luas lebih luas dari rumah bambuku yang ada di dusun. Segepok uang dari pak Wiryo kuhitung ada sekitar lima juta rupiah. Jumlah yang sangat banyak sekali, bahkan jauh lebih banyak daripada hasil panen padi Bapak setiap empat bulan sekali. Tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya pula.
Setan mana yang sudah merasuki tubuhku, yang jelas saat ini aku sangat menikmati kemudahan di dalam hidupku. Dua puluh juta dari tante Meysin kemarin ditambah lima juta dari Pak Wiryo akan kugunakan untuk merawat dan mempercantik tubuhku. Aku juga tidak ingin kalah dengan teman-teman yang lain disini agar aku bisa mendapatkan pelanggan sekelas pak Wiryo yang tidak pelit urusan uang. Aku turun tangga dan mencari Tante Meysin untuk meminta tolong mengirim uang ke Bapak dan Ibu yang ada di dusun atau berusaha bisa menelepon Bapak dan Ibu walaupun cuma sebentar.
“Tante, maaf mengganggu, bolehkah aku menelepon Bapak sebentar saja dan menitipkan uang untuk dikirim ke dusun?,” tanyaku pelan karena aku takut dimarahi atau dibentak.
“Apakah kau sudah menikmati pekerjaanmu? Mudah bukan,” jawabnya sambil tersenyum manis tidak seperti sebelumnya.
“Iya tante, aku juga betah disini, aku akan bersandiwara kepada Bapak atau Ibu, mohon percayalah padaku aku tidak akan berbuat macam-macam,” kataku memelas.
“Ini, aku sudah membelikanmu HP baru, kau tinggal isi pulsa saja belilah di depan bersama Jono, pakailah untuk menghubungi orang tuamu dan lebih utamanya gunakan komunikasi dengan pak pak Wiryo, ingatlah namamu Thalita Senja," kata Tante Meysin dengan tegas.
"Jono, antar Thalita beli pulsa ke Mbak Denik," lanjut kata Tante Meysin.
Aku terima handphone pemberian Tante Meysin, lalu kuambil uang dan pergi beli pulsa dengan Jono. Kami berjalan beriringan keluar rumah. Rumah Tante Meysin sangat besar menurutku, ternyata lingkungan sekitar rumah juga hampir sama dengan rumah Tante Meysin yang didominasi pintu dan jendela kaca yang besar. Banyak warung kopi juga di sebelah rumah. Apakah ini mungkin kawasan hitam ya, aku bertanya dalam hatiku.
Kami masuk ke dalam toko kecil mungkin jaraknya kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki.
"Mbak Denik, ini mau beli pulsa," kata Jono.
"Anak baru ya bang," jawab wanita seumuran ibuku yang dipanggil Mbak Denik.
"Iya, dari desa," jawab Jono singkat.
"Neng, mau beli pulsa berapa? Gimana neng betah ya di Dolly? Apalagi ikut Tante Meysin," tanya mbak Denik padaku.
"Iya mbak, beli lima puluh ribu dulu mbak," jawabku singkat. Oh jadi ini namanya Dolly entah nama desa atau sebutan untuk apa aku sendiri belum tau, yang jelas dari rumah di sekitar kulihat memang rumah Tante Meysin yang paling besar dan bagus. Secara tidak langsung aku bersyukur sekali, kuhalalkan uangku atas dasar jerih payahku sendiri walaupun tak bisa kututupi bahwa aku sudah terluka lahir dan batin.
Sepulang membeli pulsa, kulihat rumah masih dalam kondisi sangat sepi, sepertinya orang-orang sedang tertidur semuanya. Makanan disini sudah disediakan, mungkin karena Tante Meysin mengambil jatah uang yang banyak dari penghasilan sehingga dia mencukupi semua setiap hari. Aku naik keatas ke dalam kamarku yang posisinya ada di pojok kanan, kulihat kamar sebelahku baru saja ada seorang pria kekar keluar diikuti oleh seorang wanita yang setengah mabuk kurasa karena jalannya agak sempoyongan.
"Halo, kau anak baru kemarin ya, sapa wanita itu.
"Iya, mbak," aku takut menjawabnya.
" Gausah takut, nanti juga kau akan terbiasa mabuk disini atau mungkin merokok juga jika kau suka, tapi jangan sampai kau memakai obat ya itu larangan dari Tante Meysin agar tidak berurusan dengan polisi," lanjutnya dengan terbata-bata.
"Baik, mari mbak," izinku sambil berlalu.
Baru saja aku masuk kamar, handphone berbunyi dan tertera nama Tante Meysin memanggil.
"Iya Tante,Halo," jawabku sambil memencet tombol pengeras suara di Handphone.
"Thalita, kau jangan sampai mabuk atau terpengaruh obat terlarang ya, karena pak Wiryo tidak suka wanita aneh-aneh, usahakan kau melayani pak Wiryo dengan maksimal karena dia telah membayar mu mahal," kata Tante Meysin. Setelah itu telepon terputus dimatikan.
“Iya bayar super mahal, aku yang berkorban, tapi uang yang kuterima juga gak ada ujung kuku uang dari pak Wiryo,” gerutuku sendiri. Hatiku seakan sudah jauh dari iman, aku merasa jika pak Wiryo selalu terpuaskan denganku maka dia akan terus memberikan bonusan kepadaku. Dengan uang bonusan itu kukirim ke Bapak dan Ibu biar bisa membeli sawah yang banyak.
Aku masih mengingat nomor handphone Pak Zainuri tetangga rumahku di dusun, aku hanya ingin berbicara sebentar untuk memberi kabar kepada Bapak agar tidak khawatir. Setelah tersambung, aku menunggu Pak Zainuri untuk datang ke rumah Bapak.
“Assalamualaikum Bapak, ini Zahroh, Kabar Zahroh baik, kabar Bapak dan Ibu bagaimana?,” kutahan gemuruh di dadaku agar tidak terisak menangis.
“Waalaikumsalam, Zahroh, kami hampir mati berdiri seminggu ini menunggu kabar darimu, aku hampir saja berangkat ke Surabaya untuk nekat mencari rumah Sulkan, kurang ajar sekali nomor Sulkan sudah tidak bisa dihubungi,” jawab Bapak dengan suara bergetar menahan emosi.
“Mungkin pak Sulkan ganti nomor pak, Zahroh baik-baik saja, Bapak tunggu kiriman uang dari Zahroh ya pak nanti belilah handphone agar bisa berkabar dengan Zahroh, sisanya buatlah untuk kehidupan Bapak dan Ibu sehari-hari,”kataku antara sedih dan bahagia.
“Kami tidak perlu dikhawatirkan Zahroh, simpanlah uangmu, bagaimana kerjamu di pesantren?,” tanya Bapak.
Aku tersenyum getir,” baik pak, minta tolong simpanlah uang Zahroh pak karena Zahroh tidak pandai menyimpan uang,”kataku sambil menahan tangis.
Setelah kurang lebih dua puluh menit berbicara, aku tutup telepon Bapak dan mengirim SMS pesan ke Tante Meysin.
“Tante, apa uang dariku sudah dikirim ke dusun? Minta tolong kirimkan nomor Pak Wiryo agar aku bisa lebih bersiap diri jika orangnya datang.”
Tak lama kemudian, ada satu pesan balasan dari Tante Meysin. “Sudah, bukti pengirimannya nanti kau bisa ambil ke ruanganku di bawah, oke ini nomor pak Wiryo 081xxxxxxxxx, gimana apa kau sudah ketagihan dengan gurihnya uang pak Wiryo?”
Aku tidak membalas pesan dari Tante Meysin. Aku hanya tersenyum pahit melihat kenyataan pada diriku, di lain sisi aku juga bahagia aku punya banyak uang walaupun harus mengorbankan harga diri, kehormatan, dan kehidupanku. Aku siapkan lingerie pembelian dari tante Meysin kemarin bersiap jika pak Wiryo mala mini datang.
Braak!!! Aku kaget bukan kepalang pintu kamarku tiba-tiba terbuka dengan keras.

Post a Comment