Pengen Nambah Lagi


Aku sudah tiga tahun ikut dengan keluarga Budhe. Saat itu usiaku sudah Tujuh belas tahunan dan Mbak Adel yang usianya tiga tahun di atasku sudah kelas Tiga di salah satu SMK swasta di kotaku. Pada saat itulah aku pertama kali mengenal apa yang namanya seks.
Kejadiannya berawal dari suatu siang kira-kira setengah tahun setelah meninggalnya Budhe Tini. Saat itu sekolahku dipulangkan sebelum waktu biasanya. Semua murid dipulangkan pada jam Sepuluh pagi karena guru-guru mengadakan rapat untuk persiapan Ujian. Aku yang selalu disiplin tidak pernah bermain sebelum pulang dan ganti pakaian. Begitu sekolah dibubarkan aku langsung pulang ke rumah yang jaraknya kira-kira Dua km dengan naik angkot. Sampai di rumah aku heran karena pintu rumah tidak terkunci tetapi tidak ada orang.

Padahal tadi pagi sebelum berangkat Mbak Adel bilang kalau sekolahnya libur selama Enam hari karena minggu tenang. Aku menduga pasti Mbak Adel sedang belajar di kamar menjelang EBTA yang akan diadakan minggu depan. Karena takut mengganggu Paman yang mungkin sedang tidur aku berjalan pelan-pelan melintasi ruang tengah langsung ke kamarku dan Mbak Adel yang ada bagian belakang. Aku kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamarku yang setengah terbuka. Kudengar suara Mbak Adel mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak.

Dengan langkah mengendap-endap kudekati pintu kamarku dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Aku benar-benar kaget!! Ternyata di kamarku ada Mbak Adel dan Paman. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan. Saat itu pakaian bagian atas Mbak Adel sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Paman Mitro. 

Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa kugunakan tidur dengan Mbak Adel. Paman hanya mengenakan sarung dan satu-satunya kain yang menutupi tubuh Mbak Adel hanyalah celana dalam saja. Apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku tercekat.Kulihat Paman dengan rakus meneteki payudara Mbak Adel kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Adel meremas-remas rambut Paman yang sudah mulai memutih.

Kepala Mbak Adel bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Paman yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Adel secara bergantian. Aku yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuhku gemetar dan lututku lemas. Hampir saja kepalaku terbentur daun pintu saat aku berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian kulihat Paman menarik satu-satunya pembungkus yang melekat di tubuh Mbak Adel dan melemparkannya ke lantai.

Kini tubuh Mbak Adel sudah telanjang bulat di bawah dekapan tubuh Pamanku yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima. Erangan Mbak Adel semakin keras saat kulihat wajah Paman menyuruk ke selangkangan Mbak Adel yang terbuka. Tangan Mbak Adel yang memegang kepala Paman kulihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Paman. 

Aku yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Aku membayangkan seolah-olah tubuhku yang sedang digumuli Paman.Kedua kaki Mbak Adel melingkar di leher Paman. Suara napas Paman terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Adel semakin keras mengerang dan tubuhnya kulihat melonjak-lonjak saat kulihat wajah Paman menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Adel. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Adel mulai melemas dan terdiam.

Kemudian kulihat Paman melepas sarungnya. Dan astaga! Kulihat batang kemaluan Paman yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Paman langsung mengangkangi wajah Mbak Adel dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Adel. Mbak Adel yang masih lemas kulihat mulai memegang batang kemaluan Paman dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Paman pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Adel.

Kini posisi mereka sungguh lucu. Mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik. Paman yang mengangkangi wajah Mbak Adel menjilati selangkangan Mbak Adel yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuhku mulai meriang. Vaginaku terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginaku sedang diciumi Paman. Tanpa sadar tanganku bergerak ke arah vaginaku sendiri dan mulai menggaruk-garuk. Kejadian yang kulihat berikutnya membuat hatiku semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Paman berbalik lagi sejajar dengan Mbak Adel. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Paman menindih Mbak Adel.

Kemudian kulihat Paman menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Adel yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Paman menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Adel. Kulihat kepala Mbak mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Paman mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Adel. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain. Mbak Adel mulai merintih dan mengerang saat Paman mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap.

Kulihat pantat Mbak Adel bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Paman. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Adel dan Paman beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidurku pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka. Tubuh Mbak Adel menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya pun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya kudengar Mbak Adel merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Paman. 

Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Adel mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam. Paman lalu menarik pantatnya dan kulihat dari arah ku yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Paman yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Paman menarik tubuh Mbak Adel agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Paman menempatkan diri di belakang pantat Mbak Adel yang menungging. Paman memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Adel.

Kulihat kepala Mbak Adel terangkat saat Paman mulai mendorong pantatnya. Kembali kulihat pantat Paman mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Adel merangkak dan Paman berlutut di belakang pantat Mbak Adel. Batang kemaluan Paman kelihatan dari tempatku berdiri saat Paman menarik pantatnya dan hilang dari penglihatanku saat ia mendorong pantatnya. Aku yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tanganku secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginaku dan meremas-remasnya. Vaginaku mulai basah oleh cairan.

Jari tangahku kutekankan pada daerah sensitifku dan kugerakkan memutar.Kudengar Paman mulai menggeram. Tangannya meremas payudara Mbak Adel yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Paman yang menyodok-nyodok Mbak Adel. Gerakan Paman semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Adel pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Paman dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun kudengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang. Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas.

Lalu tubuh Paman ambruk dan menindih Mbak Adel yang ambruk tengkurap di kasur. Aku pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutku. Tubuhku seperti melayang dan akhirnya aku merasa lemas. Aku yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan keluar rumah pergi ke rumah Rina sahabat paling eratku di kelas. Aku baru pulang setelah jam 13.30 saat aku biasa pulang. Sampai di rumah aku pura-pura bersikap seperti biasa. Aku bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Adel dan Paman tadi pagi.

Selama beberapa hari itu pikiranku selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Adel dengan Pamanku di kamarku ini. [Kegadisanku Direnggut Paman] Aku sudah mulai dapat melupakan kejadian yang kulihat antara Mbak Adel dengan Pamanku karena kesibukanku mempersiapkan EBTA. Begitu EBTA selesai aku mendapatkan liburan sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta membantu Mbak Adel memasak. Suatu hari, aku harus berada sendirian di rumah dengan Paman. Mbak Adel mengikuti acara darma wisata ke Selecta yang diadakan sekolahnya sebagai acara perpisahan. Mbak Adel sudah berangkat saat pagi-pagi buta. Aku yang sedang libur harus menggantikan Mbak Adel menyiapkan sarapan buat Paman.

Setelah membuat minuman teh untukku dan satu cangkir khusus untuk Paman aku segera menyapu halaman. Aku menyempatkan diri meminum tehku sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang kuminum rasanya agak lain, tapi aku tidak begitu curiga. Saat mandi itulah aku merasa ada yang agak aneh dengan tubuhku. Tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar-debar. Rasa aneh menyergapku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu diriku. Tubuhku terasa gerah sekali. Kusiram seluruh tubuhku dengan air dingin agar rasa gerahku hilang. Apa yang kulakukan ternyata cukup menolong. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kigosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi saat aku menyabuni daerah selangkanganku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi.

Tiba-tiba anganku melayang pada apa yang kulihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Adel dan Paman Marto bergumul di kamarku. Cepat-cepat kubuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi pagiku. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, aku lari masuk kamarku. Aku selalu berganti pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil mengamati seluruh tubuhku yang mulai berubah. Bulu-bulu kemaluan sudah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku. Dadaku yang dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membesar. Kata orang aku seksi dan menarik. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri selalu betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala sisi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku.

Baru saja aku mengunci pintu kamarku aku dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapku. Aku tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memelukku langsung membekap mulutku dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yang melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku benar-benar bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku. Kembali rasa aneh yang menyerangku semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku.

Mataku semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yang telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis. Aku semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam diriku saat sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku..
Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku. Aku semakin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat tubuhku didorong ke tempat tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di tempat tidurku. Tubuhku lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat. Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas.

Pantatku terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku benar-benar seperti terbang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku saat lidah itu mulai menjilati lubang anusku. Aku tercekik kaget saat tubuhku dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurku.

Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku adalah Paman Mitro, orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak karena mulutku langsung dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan. Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Paman Mitro lebar-lebar, lalu Paman menindih tubuhku yang sudah telanjang bulat di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Paman. Mulut dan lidah Paman tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Paman bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku.


Post a Comment

Previous Post Next Post